Belajar untuk “keras kepala” ~Story of Liam Payne

Selamat sore! This is another random post from a depressed college student who spend her days just surfing on the internet and play millions random songs.
Bukan rahasia. Akhir-akhir ini saya lagi keracunan One Direction. Who are they? Tanya saja mbah google, and you’ll no why they’re driving me crazy! #lol Personel 1D yang pertama menarik perhatian saya adalah sang lead vocal Liam Payne, which is weird, karena umumnya orang lain seperti Pipin lebih suka Harry Styles. (FYI, Liam ini followernya di twitter paling dikit, padahal dia lead vocal, suaranya keren, kasian ya..heheheh).

Why I adore him? First, I can’t deny that he’s so good looking! :D But the main reason is, ada satu cerita tentang audisi Liam di X-Factor yang cukup inspiratif buat saya. Liam dan 1D debut di X-Factor dan masuk final tahun 2010. Ternyata 2 tahun sebelumnya (2008) Liam sudah pernah ikut audisi X-Factor. Saat itu usianya baru 14 tahun, dan dia berhasil menembus babak judges house di Barbados (kira-kira babak ketiga). Semua orang berpikir bocah 14 tahun ini punya talent yang cukup mengesankan. Tapi sang juri killer Simon Cowell malah “mengirimnya pulang” lewat sebuah kalimat sederhana namun cukup #jleb.
“I think you’re not ready yet.”
And he’s eliminated! Tapi seiring kepulangan Liam, Simon juga memberikan satu pesan berharga.
“Come back in two years from now. And you’ll be a different person.”
Pesan sederhana itu disimpan oleh Liam. Dan ia benar-benar kembali 2 tahun kemudian dengan dirinya yang berbeda, lebih dewasa, dan tentunya dengan kemampuan yang lebih baik. He stands proudly in front of the judges, singing “Cry Me A River” with his amazing voice. The judges and the audiences give him standing ovation!
[You can watch the perfomance of his “Cry Me A River” here !]
Disaat itulah Simon Cowell berkata, “See? I’ve said the right thing two years ago. Now you’re truly better person.” [ini orang emang instingnya keren beud].
Apa yang saya peroleh dari kisah Liam?
Ketika seseorang mengatakan “Kamu gagal!” umumnya mendadak semesta jadi gelap. Semuanya seolah hancur. Saya pribadi, ketika gagal di satu hal, kemungkinan besar tidak akan mau berurusan dengan hal itu lagi dikemudian hari. Saya akan pergi jauh-jauh dan mengubur kegagalan itu. I’ll never coming back!
Tapi di kisah tersebut, Liam berani mencoba kembali. Terjun kembali di bidang yang sama dan kembali mempertaruhkan nasibnya.
Ketika sudah disebut gagal. Orang akan mengajukan alasan, “Yah, rejekinya bukan disini.” Walaupun anda amat menginginkan hal tersebut, tapi ketika dalam perjalanan untuk mencapainya ada banyak halangan, mungkin anda akan menyerah. Anda akan melepas impian itu, dan memilih untuk beralih “mencari” mimpi baru. Liam Payne took a different option. He want it! He fail at the first try. He fail in the boys category. But he keep chase it. Finally he make it in the group. And now we can see. He’s a part of one of the most interesting band in British.
Saya pun punya sesuatu yang amat saya inginkan. Dream that I want to reach the most. Tapi jalannya panjang dan berat sekali. Dengan diri saya yang sekarang it’s almost impossible. Tapi setelah melihat kisah diatas, saya rasa saya harus “belajar jadi keras kepala”. Saya tidak boleh memasrahkan impian itu. Kalo diriku yg sekarang tak cukup capable, saya akan menunggu sambil berusaha. Entah dua tahun, lima tahun atau sepuluh tahun lagi, saya harus menjadi orang yang berbeda. I’m gonna be a better person that capable enough to take the steps closer to that dream.

Terdengar ambisius? Ya! Terdengar terlalu bersemangat? Mungkin. Tapi bukankah kadang menjadi ambisius dan terlalu bersemangat itu lebih baik daripada menjadi putus asa dan tak punya semangat?
Still, I have a long way to go…I hope I can take any step closer, closer and closer to that goddamned dream! :D
~Dreams are like a stars, you may never reach it. But if you follow it, they will lead you to your destiny~
[note: bodo amat dibilang alay dan ababil gara2 suka sama boyband, if they’re good and talented, why not?! Lol]